Indigofera: Zat Warna Alami sebagai Alternatif Pelarangan Zat Warna Sintesis

2010-05-17,

Pada tahun 1996, zat warna sistesis yaitu naftol dilarang oleh pemerintah karena merupakan bahan yang karsinogenik (menyebabkan  kanker).  Hal ini memberikan ide kepada salah satu dosen Teknik Kimia UGM, Dr. Ir. Edia Rahayuningsih, M.S. atau Bu Edia, untuk memproduksi zat warna alami berwarna biru yang dapat menggantikan zat warna sintesis yang sering digunakan oleh masyarakat. Kegiatan Bu Edia ini adalah memproduksi zat warna alami dalam bentuk serbuk yang aman dari daun indigofera.  Ide ini muncul pada tahun 2005, dimana Bu Edia memulai penelitian skala laboratorium bersama rekan-rekan dari  Pertanian, Kimia, dan Balai Batik untuk memproduksi zat warna alami dari daun indigofera. Zat warna ini diberi nama Gama Blue ND (Gadjah Mada Blue Natural Dye).

Pada tahun 2007, kegiatan ini sudah didanai oleh PHKB dan sudah ada joint product development dengan kabupaten Bantul untuk penanaman daun indigofera yang kemudian akan diolah oleh kelompok zat warna alami Bu Edia. Rekan-rekan dari Pertanian UGM berjasa dalam menanam daun indiigofera di kebun pertanian UGM, sedangkan rekan-rekan dari Kimia yang akan menguji kualitas dan kemurnian hasilnya.

Sebenarnya, zat warna alami sudah dikenal dari jaman dahulu kala, namun penggunaannya sangat sulit karena memerlukan waktu dan proses, seperti saat penanaman, pemilahan daun tua dan muda, dan  perendaman daun indigofera. Oleh karena itu, saat zat warna sintesis yaitu naftol yang lebih praktis, mudah, dan murah muncul, zat warna alami dengan mudah ditinggalkan. Naftol sudah menjadi bagian sehari-hari bagi para produsen pakaian, pengrajin batik, dan lain-lain. Ketika naftol dilarang penggunaannya, munculah masalah bagi para produsen dan pengrajin ini. Hal ini menantang Bu Edia sebagai seorang Teknik Kimia untuk membuat zat warna alami yang semudah, semurah, sepraktis, dan se-reliable zat warna sintesis.

Pada bulan November 2010, zat warna alami Gama Blue ND ini akan mulai difabrikasi, dengan KPBM sebagai penyandang dananya, dan sudah memiliki MOU dengan UGM. Dalam MOU ini, Bu Edia keukeuh untuk memberi 10% hasil penjualan Gama Blue ND untuk Jurusan Teknik Kimia UGM. Dana ini nantinya akan digunakan untuk biaya pendidikan, penelitian, ataupun bisa untuk beasiswa mahasiswa di Jurusan Teknik Kimia.

Menurut Bu Edia, dalam kegiatan ini beliau tidak mendapat hambatan, karena segala kesulitan dipandang sebagai suatu proses menuju keberhasilan. Dalam sebuah kegiatan pastilah ada tantangan dan kegagalan, namun itu juga merupakan hasil untuk dikaji lebih dalam untuk mencapai hasil yang lebih baik. Tantangannya kali ini adalah mencari teknologi untuk meningkatkan randemen yang dapat menghasilkan keuntungan lebih tinggi.

Bu Edia memiliki cita-cita untuk mengerahkan para petani di kabupaten Bantul untuk menanam tanaman indigofera, yang nantinya akan dibeli dengan harga yang cukup tinggi. Hal ini juga berhubungan dengan banyaknya lahan kritis di kabupaten Bantul, yaitu lahan yang kering dan tidak terurus. Menurut beliau, lahan ini sebaiknya dimanfaatkan untuk menanam sesuatu yang menguntungkan. Namun nyatanya, cita-cita beliau ini tidak mudah diwujudkan karena sangatlah sulit mengerahkan masyarakat untuk menanam tanaman indigofera secara kontinyu untuk kebutuhan pabrik.

Sekarang, Bu Edia sedang merintis zat warna alami food grade (zat warna alami untuk makanan). Kegiatan ini masih dalam skala penelitian. Beliau juga memiliki cita-cita untuk menggantikan essens, yaitu zat warna sintesis untuk makanan yang sering dipakai dalam kegiatan sehari-hari. Mengapa zat warna?  “Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, kaya akan raw material”, ujar Bu Edia. Bu Edia melihat bahwa sumber daya alam yang dimiliki Indonesia ini dapat digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang sangat berguna, bahkan di skala internasional. Indonesia memiliki kekayaan alam yang tidak ada tandingannya dengan negara manapun, dan kekayaan itu dapat diolah menjadi sesuatu yang  berguna dengan sentuhan teknologi.

Jika Amerika terkenal dengan NASA dan MIT terkenal dengan nanoteknologinya, beliau ingin Indonesia terkenal dengan zat warna alaminya. “Untuk menjadi internasional, kita tidak perlu menjadi mereka, tetapi kita perlu menjadi seimbang dengan mereka dengan menjadi diri kita sendiri”, ujar beliau lagi, “Yang penting adalah kita dapat memberikan kontribusi dan menjadi bagian dari solusi, meskipun kecil.”



BERITA LAIN:

1. Pengembangan Katalis Padat Sintesis Biodiesel, Usaha Meraih Cita-Cita
2. Mengenang Prof Dr Ir Ida Bagus Agra
3. Grand Launching Gama EARTH
4. Mahasiswi Teknik KImia UGM Ikuti The Youth Encounter on Sustainability (YES) Course
5. International Symposium of Sustainable Energy and Environmental Protection (ISSEEP) 2009